Thursday, April 26, 2012

I'm nobody! Who are you?

Pembaca bahasa Inggris online. Ada puisi bagus nih...Puisi ini adalah salah satu puisi kesukaan saya yang merupakan hasil karya Emily Dickinson. Pertama kali saya menemukan puisi ini di waktu saya kuliah dulu, ada dosen yang memberikan tugas menganalisa sebuah puisi. Puisi ini pendek tapi penuh makna yang dalam. Dari puisi ini kita bisa mengetahui bagaimana perasaan si pengarang waktu itu. Ia merasa ia tidak berarti di dunia ini, ia merasa tidak berguna, semua dedikasinya dianggap angin lalu saja. Hal ini dikarenakan kondisi kehidupan pada saat itu yang membatasi ruang gerak perempuan. Berikut ini puisinya:






I'm nobody! Who are you?
Are you nobody, too?
Then there's a pair of us — don't tell!
They'd banish us, you know.

How dreary to be somebody!
How public, like a frog

To tell your name the livelong day
To an admiring bog!


Biography
Emily Dickinson (1830-1886) Penyair liris perempuan Amerika yang puisinya banyak sekali – tetapi hanya tujuh dari sekitar 1800 puisinya yang dipublikasikan pada masa hidupnya. Lima diantaranya di publikasikan di Springfield Republican. Pada usia 23 tahun Dickinson menarik diri dari kontak sosial dan mencurahkan dirinya untuk menulis diam-diam. Semua karyanya muncul dan terkenal setelah dia meninggal. Sedih bukan, di saat hidup tak seorangpun yang menghargai karya-karyanya. Di saat ia hidup ia tidak bisa menikmati hasil-hasil karyanya.
Emily Dickinson lahir pada 10 Desember 1830 di Amherst, Massachussetts, Amerika, dari keluarga yang terkenal karena pendidikan dan aktivitas politiknya. Dia mendapat pendidikan di Amherst Academy (1834-47) dan Mount Holyoke Female Seminary (1847-48). Sekitar 1850-an Dickinson mulai menulis puisi, pertama dalam bentuk konvensional. Tetapi setelah 10 tahun dia mulai bereksperimen. Puisi-puisinya banyak berhubungan dengan kematian, iman dan keabadian. Dari 1858 dia mengumpulkan puisi-puisinya dalam satu ‘bundel’ yang dia jilid sendiri dengan benang dan jarum. Kelak seleksi dari puisi-puisi ini terbit setelah dia meninggal. Pada 1862 Dickinson mulai berkorespondensi dengan temannya, penulis Thomas Wentworth Higginson. Higginson kagum pada puisi yang dikirimkan Dickinson, tetapi dia menganjurkan agar Dickinson tak mempublikasikannya. Keputusan Dickinson untuk mengikuti nasihat ini dipengaruhi oleh sifat ambivalennya terhadap konvensi pasar sastra abad ke-19 dan keinginannya untuk membangun hubungan yang lebih erat dengan sesama teman. Setelah Perang Sipil Dickinson membatasi kontak-kontaknya dengan orang di luar Amherst. Sejak itu dia juga mulai hanya mengenakan baju berwarna putih dan jarang sekali menerima tamu. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di kamarnya sementara saudara-saudaranya di luar saling bertikai. Meski Emily Dickinson hidup menyendiri, dari surat-suratnya tampak bahwa dia mengenal baik tulisan-tulisan John Keats, John Ruskin dan Sir Thomas Browne. Kehidupan emosional Dickinson masih tetap misterius, tetapi beredar dugaan ini mungkin disebabkan soal kekecewaan cintanya terhadap Yang Mulia Charles Wadsworth dan Samuel Bowles, editor dari Springfield Republican.
Setelah Dickinson meninggal pada 15 Mei 1886 di Amherst, saudaranya, Lavinna, menemukan koleksi puisinya yang tersimpan rapi di kamarnya, dan dia terkejut melihat begitu banyaknya puisi yang telah ditulis Dickinson. Dia ikut menyunting tiga jilid dari 1891 sampai 1896. Jilid pertama menjadi populer. Pada awal dekade abad 20 Martha Dickinson Bianchi, sepupu Dickinson, mempublikasikan lebih banyak lagi puisi sang penyair ini. Pada 1945, dengan terbitnya Bolts of Melody maka sempurnalah sudah tugas membawa puisi Dickinson ke hadapan publik. Puisi-puisi Dickinson banyak mempengaruhi puisi modern. Puisi-puisinya dianggap paling inovatif untuk ukuran abad 19 di Amerika, bahkan banyak berpengaruh terhadap para penulis feminis. Dickinson juga menjadi salah seorang penyair yang kata-katanya banyak memberi ketenangan bagi orang-orang yang mempunyai masalah mental.

I'm Nobody, Who are you?




No comments:

Post a Comment